Senin, 09 Januari 2017

Kado untuk Ayah, Ibu, dan Adikku

Kado untuk Ayah, Ibu, dan Adikku
Masih benar-benar jelas bagaimana malam itu menjadi sangat sunyi bagiku ketika ayah meninggalkan aku, ibu, dan seorang adikku yang masih berusia 2 atau 3 tahun. Masih sangat ku rasakan kepedihan ibu ketika harus kesana kemari mencari pinjaman uang untuk sekedar menutup rasa lapar keluarga kami. Hampir Tujuh tahun lalu, ayah pergi saat tak ada orang yang mempercayai bahwa mimpi-mimpiku akan terwujud. Aku akan membawa ayah pergi berobat dan melihat ayah kembali sehat. Mereka tak ada yang percaya itu. Bahkan saudara-saudaraku sekalipun!
            Saat itu keluarga kami benar-benar merasa sendiri. Kami mencoba pergi ke rumah sakit membawa persyaratan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti yang para pembawa kebijaksanaan janjikan. Tak ada hasil yang berarti. Tak cukup sekali dua kali kami hanya mendapat sindiran kecut yang berakhir dengan tanpa pelayanan. Mau meminjam uang kepada saudara pun, kami tak lagi dipercaya bahwa kami mampu mengembalikan uang yang kami pinjam dikemudian hari.
            Menginagt masa-masa itu, seakan rasa ingin membalas sikap mereka semakin membakar tekadku untuk membuktikan bahwa kata-kataku benar. Aku akan berhasil membawa ayah ke dokter terbaik. Tapi, maaf ayah... aku terlambat, batinku mengingat.
            “Nak, jangan kau menaruh benci pada mereka. Kita harus selalu terkesan pada kebaikan orang lain sekecil apapun itu, sehingga tidak ada tempat untuk merasa benci hanya karena satu kejelekan atau kesalahan saja, tapi kita melupakan banyak kebaikan yang telah mereka berikan. Mereka sudah cukup banyak membantu kita. Bukan mereka tak mau meminjamkan kita uang, tapi barangkali mereka juga sedang membutuhkannya untuk keluarga mereka sendiri”. Begitu lembut ibu menenangkanku dengan kegetiran hati yang selalu beliau simpan sendiri.
            “Bagaimana dengan ayah bu? Ayah kesakitan, harusnya mereka sedikit saja membantu ayah, setidaknya untuk saat ini”. Ternyata kekhawatiranku pada kondisi ayah dan usiaku yang masih SMA waktu itu tak cukup bisa membuatku berpikir positif dengan keadaan.
            “Nak, ayah milik Allah. Kita berusaha semampu kita dan selebihnya biar Allah yang menentukan kehendak. Jangan kau menyimpan satu keburukan orang lain tapi kau melupakan ribuan kebaikan yang sudah mereka berikan pada kita”. Sekali lagi, ibu memelukku tanpa meneteskan air matanya. Tapi ku rasakan betul betapa dadanya sesak terisak. Sementara adikku Ira, menemani dan memberikan obat seadanya untuk ayah di kamar belakang.
            “Jangan mengeluh, nak!”. Ibu melepas pelukannya lalu berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Ku lihat ibu menyusul Ira untuk menemani ayah. Cerita sore itu berlanjut hingga malam ketika ayah dipaksa untuk mengalah melawan paru-parunya oleh kematian. Aku masih menyaksikan sendiri bagaiman disepertiga malam ayah membisikkan di telingaku, “nak antarkan ayah mengambil air wudlu”. Ayah memaksaku. Tanpa membangunkan ibu, ku coba sendiri dengan sekuat mungkin ku gunakan tubuhku untuk menopang sandaran tubuh ayah yang sangat lemah tapi begitu mantap melangkahkan kaki untuk berwudlu.
            Selepas itu, hanya ku tunggui ayah kembali di tempat tidurnya. Di atas kasur kusam yang nyaris tak ada kapasnya lagi, ku melihat beliau tertidur. Aku pun begitu. Mungkin karena terlalu lelah, hingga tak ku sadari sejak kapan aku tertidur dan membiarkan ayah tanpa pengawasan. Hingga benar benar aku terbangun, dan ibu sudah menangis dengan berkata yang terbata-bata “ nak, ayah telah pulang”.
Tanpa sedikit pun aku bertanya aku telah benar-benar memahami maksud ibu bahwa ayah sudah tiada. Setenang mungkin ku lepaskan air mataku bersama kepergian ayah. Ku peluk Ira yang mulai ikut terbangun dan mulai bertanya “ayah kenapa”. Tanpa sedikit pun bibirku mampu menjawab.
Ba’da subuh, satu dua tiga tetangga dekatku mulai berdatangan. Mereka yang membantu menyiapkan keperluan untuk mengantarkan ayah pada tempat istirahatnya yang terakhir. Sementara aku dan Ira masih ingin dekat-dekat saja dengan ayah. Ibu benar-benar perempuan kuat. Ku lihat beliau juga ikut turun tangan langsung menyiapkan keperluan ayah dengan sesekali ku lihat beliau menyeka sesuatu yang bening dari sudut matanya.
 “Dika, ibu ingin melayani ayah untuk yang terakhir kali. Kamu temani adikmu ya. Gantikan pelukan ibu untuk dia, kasihan dia masih terlalu kecil”. Perintah ibu tanpa ragu dan tak sedikitpun menunjukkan bahwa itu sebuah tawaran. Artinya, aku harus menuruti perintahnya.
Beberapa hari setelah itu, kami harus segera melanjutkan hidup lagi. Seperti ayah, melanjutkan kehidupannya dalam dimensi yang berbeda. Kami tak memiliki cukup uang untuk terlalu lama berdiam diri tanpa bekerja. Kami memulai aktifitas seperti biasanya. Adik pergi kesekolah dan aku membantu ibu membawakan sayur dagangan yang seadanya ke pasar. Setelah itu aku langsung menuju sekolah karena kebetulan jalan menuju sekolah searah dengan jalan menuju pasar Pojok tempat ibu berdagang.
Ibu biasa membawa dagangannya di atas motor butut tahun 70 an, sementara aku menaiki sepeda Jengki yang beberapa besinya jelas karatan sehingga menimbulkan bunyi sederhana, ngik... ngik...ngik... ketika dikayuh.
“Dika, kamu harus selalu ingat pesan ayah, jangan pernah mengeluh ya nak ya! Jangan sampai belajarmu terganggu. Sebentar lagi kamu ujian akhir kan? Kamu harus segera memperbaiki pelajaranmu dan menyusul ketertinggalanmu selama kamu tidak masuk sekolah karena harus menunggu ayah”.
“Iya bu, doakan Dika terus ya bu!. Jawabku sambil menata dagangan ibu di sepedaku untuk segera dibawa kepasar.
“Maafkan ibu ya nak, ibu tidak bisa membiayai sekolahmu dengan baik. Agar kamu bisa terus melanjutkan sekolahmu, kamu harus tetap berprestasi. Tanpa beasiswa yang kamu dapatkan, entah bagaimana nasib pendidikanmu juga adikmu”.
“Iya bu, insyaallah Dika akan berusaha yang terbaik, doakan Dika bu!”
“Buat ayahmu bangga nak!”.
“Ibu juga”, kataku sambil tersenyum untuk wajah lelah ibu yang juga selalu tersenyum. “Mari bu, kita berangkat”. Ajakku untuk segera mengakhiri perbincangan manis pagi itu. Antara aku dan ibu.
Assalamu’alaikum, salam seorang bapak separuh baya di depan ruang periksa membuyarkan lamunanku setelah sesaat aku memandang foto ibu bersama ayah. Ternyata bapak itu adalah salah seorang tetangga yang dulu tinggal beberapa meter dari rumah lamaku.
Wa’alaikumsalam, silakan masuk. Masyaallah, pak Sukri? Bapak kenapa?” Tanyaku sambil menyalami dan mempersilahkann beliau duduk.
“Dika? Eh maaf, pak Dika? Maaf pak kalau waktu itu....
“Em, sudahlah pak Sukri tidak apa-apa, jangan dibahas. Bapak apa keluhannya?” Sengaja segera ku alihkan pembicaraan langsung pada inti tugasku. Memeriksa pasien.
Setelah ku lakukan beberapa pemeriksaan awal aku sedikit lega, tak ada yang terlalu serius dengan penyakit pak Sukri. “Alhamdulillah pak, hanya sedikit asam lambung. Tapi bapak harus tetap menjaga pola makannya ya pak! Pintaku dengan seramah mungkin.
“Terimakasih pak. Emmm kok saya tidak pernah tahu bapak kuliah?. Pak, sekali lagi maaf pak Dika....”
“Sudahlah pak, kita bicarakan yang lain saja. Alhamdulillah pak, setelah lulus SMA saya diterima di jurusan kedokteran dengan beasiswa, di salah satu universitas di Bandung. Makanya saya pindah ke sana. Alhamdulillah juga saya bisa sambil kerja, jadi bisa mengirim sedikit uang untuk ibu dan adik di rumah”.
“Alhamdulillah, kesabaran keluargamu sudah mulai terlihat hasilnya. Tapi kenapa ibumu tidak pernah cerita?”
“Iya pak, ibu sengaja tidak ingin menceritakannya. Inilah yang selalu ibu ajarkan bahwa tak perlu kita menceritakan keberhasilan kita pada orang lain. Cukuplah keberhasilan itu bermanfaat untuk mereka, karena dengan demikian mereka akan ikut merasakan dan tahu sendiri buah keberhasilan kita”.
“Bu Mira sungguh beruntung dan pastilah bangga memiliki anak-anak yang hebat. Begitu juga almarhum pak Hasan, pasti beliau bangga. Kau telah menjadi orang yang berhasil”.
“ Oh maaf pak saya terlalu banyak mengganggu waktu bapak”.
“Oh tidak pak, sepertinya kebetulan bapak adalah pasien terakhir yang terdaftar utuk periksa dengan saya sore ini. Setelah ini ada dokter lain yang berjaga”.
“Kalau berkenan, silahkan mampir di gubuk kami pak. Kebetulan sekarang saya tinggal di dekat sini, ikut anak saya Adi, pak”.
“Oh iya Adi yang itu ya, insyaallah pak, terimakasih”. Kataku sebelum melihat pak Sukri meninggalkan ruangan.
Dengan langkah pasti pula aku membawa jas putih kebanggaanku di lengan kiri. Melangkah mantap dengan selalu merasa rindu pada seorang malaikat yang menungguku di rumah dengan kasih sayangnya, ibu. Batinku juga tersenyum. Ayah, ibu, dan kau adikku, semoga kalian selalu bahagia dan bangga dengan keberadaanku. Semoga keberhasilanku ini, selalu menjadi kado untuk kalian. I love you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar