Kado
untuk Ayah, Ibu, dan Adikku
Masih benar-benar
jelas bagaimana malam itu menjadi sangat sunyi bagiku ketika ayah meninggalkan
aku, ibu, dan seorang adikku yang masih berusia 2 atau 3 tahun. Masih sangat ku rasakan kepedihan ibu ketika harus
kesana kemari mencari pinjaman uang untuk sekedar menutup rasa lapar keluarga
kami. Hampir
Tujuh tahun lalu, ayah pergi saat tak ada orang yang
mempercayai bahwa mimpi-mimpiku akan terwujud. Aku akan membawa ayah pergi
berobat dan melihat ayah kembali sehat. Mereka tak ada yang percaya itu. Bahkan
saudara-saudaraku sekalipun!
Saat itu
keluarga kami benar-benar merasa sendiri. Kami mencoba pergi ke rumah sakit
membawa persyaratan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti yang para
pembawa kebijaksanaan janjikan. Tak ada hasil yang berarti. Tak cukup sekali
dua kali kami hanya mendapat sindiran kecut yang berakhir dengan tanpa
pelayanan. Mau meminjam uang kepada saudara pun, kami tak lagi dipercaya bahwa
kami mampu mengembalikan uang yang kami pinjam dikemudian hari.
Menginagt
masa-masa itu, seakan rasa ingin membalas sikap mereka semakin membakar tekadku
untuk membuktikan bahwa kata-kataku benar. Aku akan berhasil membawa ayah ke
dokter terbaik. Tapi, maaf ayah... aku terlambat, batinku mengingat.
“Nak,
jangan kau menaruh benci pada mereka. Kita harus selalu terkesan pada kebaikan
orang lain sekecil apapun itu, sehingga tidak ada tempat untuk merasa benci
hanya karena satu kejelekan atau kesalahan saja, tapi kita melupakan banyak
kebaikan yang telah mereka berikan. Mereka sudah cukup banyak membantu kita.
Bukan mereka tak mau meminjamkan kita uang, tapi barangkali mereka juga sedang
membutuhkannya untuk keluarga mereka sendiri”. Begitu lembut ibu menenangkanku
dengan kegetiran hati yang selalu beliau simpan sendiri.
“Bagaimana
dengan ayah bu? Ayah kesakitan, harusnya mereka sedikit saja membantu ayah,
setidaknya untuk saat ini”. Ternyata kekhawatiranku pada kondisi ayah dan
usiaku yang masih SMA waktu itu tak cukup bisa membuatku berpikir positif
dengan keadaan.
“Nak,
ayah milik Allah. Kita berusaha semampu kita dan selebihnya biar Allah yang
menentukan kehendak. Jangan kau menyimpan satu keburukan orang lain tapi kau
melupakan ribuan kebaikan yang sudah mereka berikan pada kita”. Sekali lagi,
ibu memelukku tanpa meneteskan air matanya. Tapi ku rasakan betul betapa
dadanya sesak terisak. Sementara adikku Ira, menemani dan memberikan obat
seadanya untuk ayah di kamar belakang.
“Jangan
mengeluh, nak!”. Ibu melepas pelukannya lalu berdiri dan meninggalkan ruang
tamu. Ku lihat ibu menyusul Ira untuk menemani ayah. Cerita sore itu berlanjut
hingga malam ketika ayah dipaksa untuk mengalah melawan paru-parunya oleh
kematian. Aku masih menyaksikan sendiri bagaiman disepertiga malam ayah
membisikkan di telingaku, “nak antarkan ayah mengambil air wudlu”. Ayah
memaksaku. Tanpa membangunkan ibu, ku coba sendiri dengan sekuat mungkin ku
gunakan tubuhku untuk menopang sandaran tubuh ayah yang sangat lemah tapi begitu
mantap melangkahkan kaki untuk berwudlu.
Selepas
itu, hanya ku tunggui ayah kembali di tempat tidurnya. Di atas kasur kusam yang
nyaris tak ada kapasnya lagi, ku melihat beliau tertidur. Aku pun begitu.
Mungkin karena terlalu lelah, hingga tak ku sadari sejak kapan aku tertidur dan
membiarkan ayah tanpa pengawasan. Hingga benar benar aku terbangun, dan ibu
sudah menangis dengan berkata yang terbata-bata “ nak, ayah telah pulang”.
Tanpa sedikit pun aku bertanya aku telah benar-benar
memahami maksud ibu bahwa ayah sudah tiada. Setenang mungkin ku lepaskan air
mataku bersama kepergian ayah. Ku peluk Ira yang mulai ikut terbangun dan mulai
bertanya “ayah kenapa”. Tanpa sedikit pun bibirku mampu menjawab.
Ba’da subuh, satu dua tiga tetangga dekatku mulai berdatangan.
Mereka yang membantu menyiapkan keperluan untuk mengantarkan ayah pada tempat
istirahatnya yang terakhir. Sementara aku dan Ira masih ingin dekat-dekat saja
dengan ayah. Ibu benar-benar perempuan kuat. Ku lihat beliau juga ikut turun
tangan langsung menyiapkan keperluan ayah dengan sesekali ku lihat beliau
menyeka sesuatu yang bening dari sudut matanya.
“Dika, ibu ingin
melayani ayah untuk yang terakhir kali. Kamu temani adikmu ya. Gantikan pelukan
ibu untuk dia, kasihan dia masih terlalu kecil”. Perintah ibu tanpa ragu dan
tak sedikitpun menunjukkan bahwa itu sebuah tawaran. Artinya, aku harus
menuruti perintahnya.
Beberapa hari setelah itu, kami harus segera melanjutkan
hidup lagi. Seperti ayah, melanjutkan kehidupannya dalam dimensi yang berbeda.
Kami tak memiliki cukup uang untuk terlalu lama berdiam diri tanpa bekerja.
Kami memulai aktifitas seperti biasanya. Adik pergi kesekolah dan aku membantu
ibu membawakan sayur dagangan yang seadanya ke pasar. Setelah itu aku langsung
menuju sekolah karena kebetulan jalan menuju sekolah searah dengan jalan menuju
pasar Pojok tempat ibu berdagang.
Ibu biasa membawa dagangannya di atas motor butut tahun
70 an, sementara aku menaiki sepeda Jengki yang beberapa besinya jelas karatan
sehingga menimbulkan bunyi sederhana, ngik...
ngik...ngik... ketika dikayuh.
“Dika, kamu harus selalu ingat pesan ayah, jangan pernah
mengeluh ya nak ya! Jangan sampai belajarmu terganggu. Sebentar lagi kamu ujian
akhir kan? Kamu harus segera memperbaiki pelajaranmu dan menyusul
ketertinggalanmu selama kamu tidak masuk sekolah karena harus menunggu ayah”.
“Iya bu, doakan Dika terus ya bu!. Jawabku sambil menata
dagangan ibu di sepedaku untuk segera dibawa kepasar.
“Maafkan ibu ya nak, ibu tidak bisa membiayai sekolahmu
dengan baik. Agar kamu bisa terus melanjutkan sekolahmu, kamu harus tetap
berprestasi. Tanpa beasiswa yang kamu dapatkan, entah bagaimana nasib
pendidikanmu juga adikmu”.
“Iya bu, insyaallah Dika akan berusaha yang terbaik,
doakan Dika bu!”
“Buat ayahmu bangga nak!”.
“Ibu juga”, kataku sambil tersenyum untuk wajah lelah ibu
yang juga selalu tersenyum. “Mari bu, kita berangkat”. Ajakku untuk segera
mengakhiri perbincangan manis pagi itu. Antara aku dan ibu.
“Assalamu’alaikum,
salam seorang bapak separuh baya di depan ruang periksa membuyarkan lamunanku
setelah sesaat aku memandang foto ibu bersama ayah. Ternyata bapak itu adalah
salah seorang tetangga yang dulu tinggal beberapa meter dari rumah lamaku.
“Wa’alaikumsalam, silakan
masuk. Masyaallah, pak Sukri? Bapak kenapa?” Tanyaku sambil menyalami dan
mempersilahkann beliau duduk.
“Dika? Eh maaf, pak Dika? Maaf pak kalau waktu itu....
“Em, sudahlah pak Sukri tidak apa-apa, jangan dibahas.
Bapak apa keluhannya?” Sengaja segera ku alihkan pembicaraan langsung pada inti
tugasku. Memeriksa pasien.
Setelah ku lakukan beberapa pemeriksaan awal aku sedikit
lega, tak ada yang terlalu serius dengan penyakit pak Sukri. “Alhamdulillah
pak, hanya sedikit asam lambung. Tapi bapak harus tetap menjaga pola makannya
ya pak! Pintaku dengan seramah mungkin.
“Terimakasih pak. Emmm kok saya tidak pernah tahu bapak
kuliah?. Pak, sekali lagi maaf pak Dika....”
“Sudahlah pak, kita bicarakan yang lain saja.
Alhamdulillah pak, setelah lulus SMA saya diterima di jurusan kedokteran dengan
beasiswa, di salah satu universitas di Bandung. Makanya saya pindah ke sana. Alhamdulillah juga saya
bisa sambil kerja, jadi bisa mengirim sedikit uang untuk ibu dan adik di
rumah”.
“Alhamdulillah, kesabaran keluargamu sudah mulai terlihat
hasilnya. Tapi kenapa ibumu tidak pernah cerita?”
“Iya pak, ibu sengaja tidak ingin menceritakannya. Inilah
yang selalu ibu ajarkan bahwa tak perlu kita menceritakan keberhasilan kita
pada orang lain. Cukuplah keberhasilan itu bermanfaat untuk mereka, karena
dengan demikian mereka akan ikut merasakan dan tahu sendiri buah keberhasilan
kita”.
“Bu Mira sungguh beruntung dan pastilah bangga memiliki
anak-anak yang hebat. Begitu juga almarhum pak Hasan, pasti beliau bangga. Kau
telah menjadi orang yang berhasil”.
“ Oh maaf pak saya terlalu banyak mengganggu waktu
bapak”.
“Oh tidak pak, sepertinya kebetulan bapak adalah pasien
terakhir yang terdaftar utuk periksa dengan saya sore ini. Setelah ini ada
dokter lain yang berjaga”.
“Kalau berkenan, silahkan mampir di gubuk kami pak.
Kebetulan sekarang saya tinggal di dekat sini, ikut anak saya Adi, pak”.
“Oh iya Adi yang itu ya, insyaallah pak, terimakasih”. Kataku
sebelum melihat pak Sukri meninggalkan ruangan.
Dengan langkah pasti pula aku membawa jas putih
kebanggaanku di lengan kiri. Melangkah mantap dengan selalu merasa rindu pada
seorang malaikat yang menungguku di rumah dengan kasih sayangnya, ibu. Batinku
juga tersenyum. Ayah, ibu, dan kau adikku, semoga kalian selalu bahagia dan
bangga dengan keberadaanku. Semoga keberhasilanku ini, selalu menjadi kado
untuk kalian. I love you.