Minggu, 31 Juli 2016

Meratapi Dengan Berjalannya Usia



Aku termangu di depan cermin. Meratapi wajahku yang tak lagi remaja. Tetiba, ribuan kisah berkelebat di dalam benak. Kisah tentang rasa, luka, dan sebuah kerinduan tertayang di layar pikiran. Semua cerita yang mengantarkanku pada titik ini. Titik, di mana aku tersadarkan bahwa, ada jutaan detik yang terbuang sia-sia. Begitu sia-sia.

Duhai, ada seseorang yang menjanjikan harapan, memberikan sayap-sayap mimpi hingga aku mengepak terbang ke langit hayal. Namun pada akhirnya, aku terjerembab jatuh, saat petir penghianatan menyambar lalu mematahkan sayap itu. Hatiku meringis. Jiwaku menangis. Aku begitu sakit saat buai janji yang ia ucap ternyata palsu; membuat dada terasa sesak di sepanjang waktu. Untungnya, kala itu, aku belum lupa caranya bernafas, maka aku tetap melanjutkan hari; walau semua menjadi berbeda. Sebab aku sudah lupa caranya tersenyum.

Sekali lagi, sia-sia. Tangisan itu adalah, maaf, ketololan yang pernah kulakukan. Betapa malunya diri ini, menangis demi seseorang yang justru telah merusak hari-hariku. Padahal Ibnu Abbas, radiallahu anhu, selalu menangis hingga matanya menjadi buta. Tidak. Ia tidak menangisi luka, ia menangisi dosa. Ia menangis karena cinta pada Allah, sedang aku menangis karena cinta pada selain-Nya. Duh, bukankah ini bodoh sekali? 

Di sela waktu, ada seseorang yang membuat gersang jiwa menjadi semi. Ia menawarkan cinta yang baru; membalut luka lama dengan senyum manis-nya. Dan aku, jatuh cinta. Sialnya, ia mengibaskan uluran tanganku. Ia menutup telinga saat aku mendeklarasikan rasa. Hati ini kembali patah. Saat ia bersikap dingin, mengisyaratkan bahwa aku bukan sosok yang ia tunggu. Ia menolakku; mengabaikan rasa ini.

Sekali lagi, sia-sia. Jeritan itu adalah, maaf, kedunguan yang pernah kulakukan. Betapa cengengnya diri ini, meronta-ronta saat hati mencintai namun tak mampu memiliki. Padahal Abu Bakar yang shaleh, atau 'Umar ibn Khattab yang gagah pernah ditolak oleh Fathimah. Padahal Salman al-Farisyi, cintanya kandas sebab gadis yang ia pinang, lebih memilih Abu Darda, sang teman yang justru sedang mengantarnya meminang.... 

Tak ada dalam catatan sejarah bahwa beliau-beliau bersedih, bukan? Tak ada ceritanya. Tapi aku? Hei, bersedih hanya karena ditolak cinta? Memalukan. Sangat memalukan. Benar kata seorang 'alim bahwa, jangankan memiliki seseorang itu, bahkan, kita sendiri pun bukan milik kita, kan? 

Di bilangan hari, aku terduduk di meja taman. Sendiri. Kedua tanganku menutup muka, hatiku berteriak bagai kerasukan hantu. Waktu itu, aku sedang mengingat seseorang. Rasa sepi telah menyeret pikiranku ke masa silam. Ke waktu, di mana aku menari-nari di atas pentas cerita. Cerita, yang menyelipkan jutaan kenangan di sepanjang detak. Hehe.. kegalauan kala itu, adalah kebodohan yang pernah kulakukan.

Lucu sekali, sebab, aku disibukkan dengan puing-puing kisah yang sudah karatan. Sedang si dia, justru sedang berpesta di istana indah. Karena mengharapkan masa lalu, aku telah mencekik hari ini, untuk membunuh masa depan.

Demikianlah. Ada banyak cerita yang detik ini, baru kutertawai. Dan kesimpulan akhirnya cukup sederhana. Saat aku patah karena penghianatan, saat aku sedih karena penolakan, pun saat aku galau karena merindukan mantan... saat itulah aku tahu bahwa... 

Aku masih kekenakan. Belum dewasa. Atau dalam bahasa era ini, alay namanya.

Yaa Allah, begitu bodohnya diri ini..

Bumi, satu Agustus 2016.
Anissyafira M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar